Cara Menentukan Ukuran Kemasan yang Tepat

Kemasan box untuk kue yang cukup untuk berisikan 4 kue

Memilih ukuran kemasan yang tepat dimulai dari mengukur produk, bukan menentukan ukuran kotak yang terlihat menarik. Kamu perlu memperhitungkan panjang, lebar, tinggi produk, ruang tambahan, serta kebutuhan selama penyimpanan dan pengiriman. Ukuran yang sesuai membantu produk tetap aman, mudah dikemas, dan terlihat rapi saat diterima pelanggan. 

Masalahnya, ukuran kemasan yang terlihat pas di atas kertas belum tentu cocok ketika digunakan. Brownies bisa bergeser di dalam kotak, topping kue bisa menyentuh tutup, atau kemasan makanan justru terlalu besar untuk produknya. Sebelum memesan kemasan custom, ada beberapa hal yang perlu diperiksa agar ukuran yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis. 

Baca Juga: Kenapa Warna Cetak Beda dari File Digital? 

1. Ukur Produk Sebelum Menentukan Ukuran Kemasan 

Langkah pertama adalah mengetahui dimensi produk yang akan dikemas. Jangan langsung menggunakan ukuran kemasan yang biasa dipakai kompetitor karena bentuk, porsi, dan cara penyajian setiap produk bisa berbeda. 

Untuk produk berbentuk kotak atau persegi panjang, ukur tiga dimensi utama: 

  • Panjang: sisi terpanjang pada bagian dasar produk. 

  • Lebar: sisi lainnya pada bagian dasar produk. 

  • Tinggi: jarak dari dasar hingga titik tertinggi produk. 

Sebagai contoh, kamu menjual brownies dengan ukuran 20 × 10 × 5 cm. Angka tersebut menjadi titik awal untuk menentukan ukuran bagian dalam kotak, bukan otomatis ukuran akhir kemasan. 

Perhatikan juga bagian produk yang menonjol. Pada kue dengan topping krim, dekorasi, atau lapisan yang mudah rusak, tinggi produk perlu diukur sampai titik tertinggi. Untuk makanan yang bentuknya tidak beraturan, gunakan dimensi terluar sebagai acuan. 

Tujuannya sederhana: kemasan harus mengakomodasi produk dalam kondisi sebenarnya, bukan hanya berdasarkan perkiraan. 

2. Sisakan Ruang yang Cukup di Dalam Kemasan 

Setelah mengukur produk, langkah berikutnya adalah menentukan ruang tambahan. Kemasan tidak harus menempel rapat pada setiap sisi produk. Namun, ruang yang terlalu besar juga bisa menimbulkan masalah. 

Jika kemasan terlalu kecil, produk mungkin sulit dimasukkan atau dikeluarkan. Tekanan pada sisi dan bagian atas juga berisiko merusak bentuk makanan. Sebaliknya, kemasan yang terlalu longgar dapat membuat produk bergeser selama pengiriman. 

Besarnya ruang tambahan bergantung pada jenis produk dan cara pengemasannya. Brownies yang disusun dalam satu baris memiliki kebutuhan berbeda dari kue dengan topping tinggi atau camilan yang menggunakan wadah tambahan. 

Karena itu, jangan menggunakan satu angka toleransi untuk semua produk. Pertimbangkan apakah makanan perlu ruang untuk dekorasi, pelindung, atau kemudahan saat diambil pelanggan. 

3. Perhatikan Bagian Dalam, Bukan Hanya Ukuran Luar 

Salah satu hal yang sering terlewat ketika membuat kemasan custom adalah perbedaan antara ukuran luar dan ukuran dalam. 

Ketebalan material, konstruksi lipatan, serta bentuk kotak dapat memengaruhi ruang yang tersedia untuk produk. Kotak dengan ukuran luar yang terlihat cukup belum tentu memiliki ruang dalam yang sesuai. 

Hal ini semakin penting jika kamu menggunakan sekat, alas, tray, atau pelindung tambahan. Semua komponen tersebut perlu diperhitungkan karena mengambil sebagian ruang di dalam kemasan. 

Sebelum menentukan spesifikasi cetak, pastikan ukuran yang dibicarakan dengan percetakan merujuk pada dimensi yang tepat. Untuk kebutuhan produk, ukuran dalam biasanya menjadi acuan utama. 

Dengan begitu, kamu tidak hanya mendapatkan kemasan yang sesuai secara visual, tetapi juga benar-benar bisa digunakan. 

4. Sesuaikan Ukuran Kemasan dengan Cara Produk Dijual 

Ukuran kemasan tidak hanya ditentukan oleh produknya. Cara produk disajikan dan dikirim juga ikut memengaruhi keputusan. 

Misalnya, satu potong cake yang dijual langsung kepada pelanggan membutuhkan pendekatan berbeda dari beberapa potong cake yang dikemas dalam satu kotak untuk pesanan keluarga. 

Sebelum menentukan ukuran, pertimbangkan beberapa hal berikut: 

  • Porsi produk: apakah kemasan digunakan untuk satu porsi, beberapa potong, atau satu paket lengkap? 

  • Cara penyajian: apakah produk perlu tetap tegak, memiliki ruang untuk topping, atau menggunakan alas khusus? 

  • Pengiriman: apakah produk akan dibawa sendiri oleh pelanggan, dikirim menggunakan kurir, atau ditumpuk bersama pesanan lain? 

  • Penyimpanan: apakah kemasan perlu disusun dalam jumlah banyak di rak, lemari pendingin, atau area penyimpanan? 

Pertimbangan ini membantu kamu memilih ukuran yang tidak hanya cocok saat produk pertama kali dimasukkan, tetapi juga tetap fungsional dalam proses penjualan. 

5. Pilih Material dan Bentuk Kemasan yang Sesuai 

Ukuran bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah kemasan bekerja dengan baik. Material dan konstruksinya juga perlu disesuaikan dengan karakteristik produk. 

Kemasan untuk makanan kering, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda dari kemasan untuk produk yang berat, mudah hancur, atau memiliki permukaan yang rentan rusak. Ketebalan kertas, struktur lipatan, dan bentuk penutup dapat memengaruhi kekuatan serta kemudahan penggunaan kemasan. 

Jika kamu ingin menggunakan kemasan berbahan kertas atau karton, diskusikan kebutuhan produk dengan percetakan sebelum menentukan spesifikasi akhir. Jangan memilih material hanya berdasarkan ketebalan atau tampilan luarnya. 

Perlu diingat, kemasan berbahan kertas juga tidak otomatis cocok untuk kontak langsung dengan semua jenis makanan. Pemilihan material harus mempertimbangkan kesesuaian untuk penggunaan pangan, terutama jika makanan bersentuhan langsung dengan permukaannya. 

6. Lakukan Uji Coba Sebelum Cetak dalam Jumlah Besar 

Ukuran kemasan yang sudah dihitung tetap perlu diuji secara langsung. Sebab, ada perbedaan antara desain yang terlihat sesuai di layar dan kemasan yang benar-benar digunakan. 

Sebelum masuk ke produksi massal, buat atau minta prototipe dengan ukuran dan konstruksi yang direncanakan. Masukkan produk ke dalamnya, lalu periksa apakah produk mudah dimasukkan, tidak tertekan, dan bisa dikeluarkan tanpa kesulitan. 

Jika produk akan dikirim, lakukan simulasi sederhana sesuai kondisi distribusinya. Periksa apakah produk mudah bergeser, apakah tutup tetap tertutup dengan baik, dan apakah kemasan cukup praktis untuk disimpan. 

Tahap ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi penggunaan material. Bisa jadi ukuran yang direncanakan terlalu besar, atau justru membutuhkan penyesuaian pada tinggi dan bentuk kotaknya. 

Lebih baik menemukan kekurangan pada tahap uji coba daripada setelah ribuan kemasan selesai dicetak. 

Tentukan Ukuran Kemasan Berdasarkan Kebutuhan Produk 

Baca Juga: Makin Tebal Kertas, Makin Bagus? Jangan Salah Pilih GSM 

Ukuran kemasan yang tepat bukan selalu yang paling besar atau paling kecil. Yang terpenting adalah kesesuaiannya dengan dimensi produk, ruang tambahan, material, dan cara produk disimpan maupun dikirim. 

Bagi bisnis makanan yang ingin menggunakan kemasan custom, proses ini sebaiknya dimulai dengan mengukur produk secara akurat, menentukan kebutuhan penggunaannya, lalu menguji ukuran sebelum produksi dalam jumlah besar. 

Dengan perencanaan yang tepat, kemasan tidak hanya membantu melindungi produk, tetapi juga membuat proses pengemasan lebih praktis dan pengalaman pelanggan lebih baik. 

Sedang merencanakan kemasan custom untuk bisnis makananmu? 

Trio Jaya membantu kebutuhan kertas dan percetakan untuk berbagai keperluan bisnis, termasuk kemasan makanan. Konsultasikan kebutuhan ukuran, material, dan desain kemasanmu melalui WhatsApp bersama tim Trio Jaya disini. 

Next
Next

Fungsi Laminasi pada Kemasan Makanan: Bukan Cuma Estetik